Login
Username:

Password:

  Registrasi?

Semangat Kewartawanan Seorang Usahawan

Oleh helma
Jumat, 28 Agustus 2009 09:40:56 Klik: 1073 Cetak: 438 Kirim-kirim Print version download versi msword

oleh: Eko Yanche Edrie


Umum | Rabu, 22/04/2009 20:58 WIB


Selasa malam 21 April 2009, tokoh multibidang H.Basril Djabar genap berusia 66 tahun. Wartawan, pemimpin media, konsul jenderal kehormatan Bangladesh, usahawan, budayawan, politikus, aktifis dan banyak sebutan lain untuk pria. Malam itu ia amat bahagia ketika ratusan handai taulan larut bersamanya merayakan ulang tahun di hotel Pangeran’s Beach. Malam itu juga diluncurkan otobiografinya bertajuk: Sekali di Daerah, Tetap di Daerah. Buku yang dieditori oleh sastrawan Abrar Yusra itu didampingi pula sebuah buku lain H.Basril Djabar Sahabat Kita yang berisi tulisan para sahabatnya.
Wartawan padangmedia.com, Eko Yanche Edrie menulis juga dalam buku itu, berikut tulisannya:

Kewartawanan sebenarnya bukan hal yang melekat dari awal pada seorang Basril Djabar. Maklum selepas jadi aktivis tahun 1966, Basril lebih banyak bersentuhan dengan dunia bisnis. Tapi pergaulannya dengan kalangan wartawan, seniman dan budayawan membuatnya banyak bersentuhan dengan dunia persuratkabaran, kesenian dan kewartawanan.

Tetapi begitu ia sudah masuk dalam lingkungan sentral kewartawanan yakni sejak masuk ke dalam manajemen Singgalang bersama Nasrul Sidik dan Salius Sutan Sati, ia tak mau pula setengah-setengah. Ia mau total. Pemahamannya tentang jurnalistik semula kosong, tapi ia memaksa dirinya untuk terus belajar. Paling tidak harus bisa memahami pekerjaan jurnalistik yang menjadi pekerjaan terbesar dalam bisnis surat kabar yang mualai digeluti Basril sejak permulaan tahun 1970an.

Ia melihat orang-orang yang bekerja sebagai wartawan, seniman dan budayawan tidak terlalu serius dan bahkan tidak terlalu peduli dengan materi. Persoalan yang mengedepan dalam lingkup pergaulan ini adalah idealisme. Tiap hari senantiasa diisi dengan diskusi, membicarakan orang banyak tapi lupa membicarakan nasib sendiri. Tapi Basril amat menyukai komunitas ini. Ia pun ikut dalam berbagai diskusi dan terlibat aktif. Sering pula ia mencukongi diskusi itu dengan sekedar makan siang, kopi dan rokok. Sesekali menyisakan uang dari kantongnya untuk dibagikan kepada para ‘anggota diskusi’.

Oleh karena itu tak heran bila pada permulaan ia bergabung dalam Singgalang cukup banyak komunitas seniman dan budayawan yang dia ajak bergabung. Hitung sajak dari Ali Akbar Navis, Darman Moenir, Hamid Djabar, M.Yoesfik Helmy, Chairul Harun, Makmur Hendrik, Abrar Yusra, Sjafrial Arifin, Asril Joni, Wisran Hadi, sampai ke A.Alinde, Asbon Budinan Haza, Edy Utama dan seterusnya.

Akan halnya kewartawanan, meskipun tidak menekuni penulisan, Basril Djabar diam-diam menempatkan dirinya sebagai inspirator dan motivator wartawan. Ia memberikan sejumlah gagasan liputan atau gagasan artikel kepada para redaktur untuk ditulis di Singgalang.

Ketika ia mulai memimpin Singgalang menjadi Pemred, Basril sering terusik untuk menulis juga. Ia menulis. Banyak yang menyangsikan bahwa itu adalah tulisan Basril Djabar atau buah pikiran Basril Djabar. Tapi sesungguhnya ia tak mau pula disepelekan sebagai seorang Pemimpin Redaksi. Tulisan-tulisan tersebut memang tidak dia tulis dengan utuh, tetapi ia telah menuliskan jauh lebih rinci dalam bentuk pointer tentang pokok-pokok pikirannya. Dan itu sungguh sistematis. Artinya kalaupun kemudian ‘ditukangi’ langi oleh redaktur yang ditunjuk, sudah tidak banyak masalah lagi. Pokok-pokok pikirannya sudah dibuat sebegitu runtut dan memenuhi kaidah-kaidah runtutnya sebuah artikel.

Motivasi yang ia berikan kepada para wartawan Singgalang untuk menjadi nomer satu. Pada permulaan Singgalang menjadi suratkabar harian, kehidupan koran ini sungguh menyedihkan secara finansial. Koran sering terlambat terbit hanya karena ketiadaan kertas. Maka motivasi yang diberikan Basril untuk membuat para wartawan Singgalang adalah “Semua harus tetap menegakkan kepala”. Tidak boleh ada yang mengeluh, tidak boleh ada yang makan daging sementara temannya makan tulang. Tidak boleh ada wartawann yang menjual dirinya karena kehidupan sangat sulit. Dan satu hal tidak boleh orang menghina wartawan dan kewartawanan adalah sesuatu yang harus diletakkan pada bagian dasar dari tempat berpijak dan beroperasinya para wartawan Singgalang.

Dengan motivasi seperti itu, semua wartawan Singgalang era tahun 1980an dipacu untuk terus melahirkan karya-karya jurnalistik terbaik.

Harian Haluan ketika itu adalah suratkabar dengan kondisi yang sudah lebih baik secara finansial. Sedangkan koran-koran Jakarta tiba di Padang setelah siang. Oleh karena itu Basril menyatakan ‘pertempuran’ untuk memenangkan pasar adalah dengan dengan Haluan. Tiap hari koran yang satu ini diintip dan dibahasa dalam rapat-rapat redaksi. Sampai pada akhirnya, diyakini secara isi Singgalang jauh lebih bagus. Tapi pertanyaannya kenapa oplah Singgalang masih kecil? Tahun 1980an itu oplah Haluan di atas 30 ribu. Sementara Singgalang masih 6 ribuan. Meskipun dalam hitung-hitungan angka 6 ribu itu sudah bisa membuat nafas lega, tetapi tentu saja membuat perusahaan tidak bisa melakukan saving yang bisa digunakan untuk reinvestasi maupun untuk mengatasi berbagai penyusutan aset. Intinya, sisi bisnis koran harus diperbaiki juga. Agresifitas pemasaran harus dilakukan. Maka muncul idiom baru: “Bikin koran yang bermutu itu gampang, tapi menjual koran bermutu belum tentu gampang”.

Sempat kalangan wartawan muda di Singgalang mempertanyakan, bahwa untuk apa isinya dibagus-baguskan kalau tidak laku juga dijual? Buat apa perwajahan Singgalang dimodernisasi kalau koran yang tidak dimodernisasi saja masih tetap unggul di pasaran?

Basril Djabar marah besar dengan pertanyaan itu. Menurutnya tidak ada alasan untuk mengurangi kualitas isi dan wajah atau kembali setback ke pola lama guna mengejar pasar. “Isi berkualitas tetap, wartawan yang berwawasan dan terus dididik juga perlu, tapi semua baik wartawan maupun staf di departemen bisnis harus memberi perhatian pada bisnis koran. Pokoknya saya mau koran berkualitas tapi laku di pasaran dan orang datang memasang iklan,” katanya berkali-kali dalam rapat redaksi.

Sejak penggalan tahun 1980an dimulailah pengenalan editorial yang berwawasan bisnis tanpa meninggalkan idealisme. Ini jelas tidak mudah. Ada saatnya harus tawar menawar antara idealisme dengan bisnis. Tapi kemudian diperoleh jawaban paling pas: bahwa yang terakhir dikedepankan adalah kebenaran. Kebenaranlah yang kemudian harus dibela bila sudah tidak ada pilihan antara bisnis dan idealisme.

Ketika terjadi perselisihan dengan Kakanwil PU Sumatera Barat, Sabri Zakaria, sisi kewartawanan itu diuji. Ini adalah salah satu sisi getir dalam perjuangan penegakkan wibawa kewartawanan dan martabat pers nasional.

Sabri yang dipermalukan oleh seorang perempuan di hotel Pangerans Beach, selama ini dianggap pejabat yang untouchable. Tapi ketika peristiwa di Pangeran’s itu bagi Singgalang itu hanya berita biasa yang layak diberitakan.

Para redaktur yang hendak menurunkan berita itu berkonsultasi dengan Basril Djabar yang saat itu sedang berada di rumahnya di Pulomas Jakarta bersama Darlis Sofyan, Ramlie Karlen, Eko Yanche Edrie dan Syafruddin Al. Basril memutuskan bahwa berita itu harus diturunkan. Hasril Chaniago dan Adi Bermasa di Padang kemudian memuatnya.

Senin berita itu terbit. Hari Selasa berita yang sama dimuat di Mingguan Canang. Sumatera Barat langsung buncah. Singgalang dicari. Hari itu sedianya akan dicetak ulang, tetapi tidak jadi.

Sejak berita itu muncul, pihak Sabri merasa tidak senang, Ia mencari celah bagaimana memberikan klarifikasi. Tapi ia terus menerus menolak jika diwawancarai Singgalang. Sejak itu pula, pihak Sabri memberi tekanan dalam berbagai pemberitaan tentang keterlibatan Pemimpin Umum B.Yonda Djabar. Secara fisik memang Yonda berada di hotel Pangerans Beach pada saat kejadian itu. Dan sempat merentangkan tangan ketika mobil Sabri hendak keluar dari teras hotel. Maka itulah yang dijadikan peluang oleh Sabri untuk balik menghantam Singgalang.

Tapi sampai kasus itu berlanjut ke pengadilan, tiada sepatah katapun dari Sabri yang menyerang pemberitaan Singgalang, ia hanya ‘bermain’ di pasal pencemaran nama baik oleh Yonda. Sementara Singgalang tidak ingin terjebak dengan memberitakan hal di luar konteks berita. Toh yang jadi berita sesungguhnya menurut pandangan Singgalang adalah Sabri dituntut tanggungjawabnya oleh seorang perempuan bernama Linda. Perempuan itu mengklaim bahwa ia adalah ibu dari anak Sabri Zakaria. Karena itu pula ketika hari-hari panjang perselisihan itu, Singgalang tetap konsisten hanya memberitakan perkara dia dengan perempuan bernama Linda itu. Sementara dari pihak Sabri yang kemudian diakomodir juga oleh berbagai suratkabar senantiasa mengupas berbagai sisi dari lingkungan Singgalang. Berbagai hal tentang Singgalang, proyek-proyek Yonda Djabar, urusan pajak, iklan, langganan, kedudukan Basril Djabar sebagai Ketua Kadinda menjadi bulan-bulanan pemberitaan media yang dekat dengan Sabri. Para wartawan Singgalang di daerah-daerah juga mendapat kesulitan jika berhubungan dengan kantor Dinas PU setempat.

Beberapa kali muncul pernyataan Sabri bahwa ia akan fight sampai hanya tinggal kolor saja dengan Yonda Djabar. Tapi entah para inner circle Sabri yang salah kutip atau memang begitu faktanya, yang muncul justru bukan fight dengan Yonda melainkan dengan Singgalang.

Dalam sebuah rapat lengkap di Rattan Room akhirnya disepakati bahwa tantangan Sabri itu tidak perlu dilayani. Oleh karena itu biarkan sajalah Sabri dengan para koleganya sampai capek. Soal Yonda yang dijadikan terdakwa, dianggap sebagai sebuah resiko, itu harus dihadapi. Karena itu para wartawan diminta untuk kembali bekerja seperti biasa. Biarlah kasus Sabri berlalu bersama angin. Gone with the Wind.

Itu pula alasannya kenapa tawaran damai yang dimoderatori oleh Gubernur Hasan Basri Durin akhirnya ditampik oleh Basril. Padahal semua Basril dan Sabri sudah sama-sama setuju Hasan Basri Durin memfasilitasi keduanya bertemu di Jakarta. Menurut Basril, keadaan ini sudah sangat buruk, oleh karena itu silahkan saja Sabri hendak melakukan apapun.

Basril mencatat, era itu adalah era gelap solidaritas pers. Semua orang Singgalang tidak akan melupakan hal itu, dimana koran-koran mengeroyok Singgalang. Yang tidak ikut hanyalah harian Pelita, Kompas dan Panjimas. Koran-koran lokal dan koran Medan Pos serta sejumlah mingguan dari Medan dengan gencar seperti hendak membunuh Singgalang. Hari itu bagai tidak ada lagi berita yang lebih hebat daripada berita-berita tentang keburukan Singgalang. Solidaritas pers benar-benar mencapai titik nadir.

Dan anehnya, ketika setelah setelah peristiwa itu berlalu, kemudian Sabri Zakaria memasuki masa pensiun, para wartawan yang tadinya gencar mencecar Singgalang satu persatu datang. Mereka kembali datang ke ruang kerja Basril seperti dulu-dulu. Acara minum kopi atau makan siang bersama kembali meriah di ruang kerja Pemred Singgalang. Basril maupun para redaktur menerima dengan wajar. Kata Basril: “Tuhan sajalah yang akan membalas amal dan dosa mereka”.

nara sumber :padangmedia
 
Berita Business Lainnya
. Soal Investasi, Sumbar Nomor Dua Pincit
. Apindo: Produk Made in China Masih Mendominasi
. Jokowi-JK Ngumpul Bareng Sofjan Wanandi Dkk
. BBM Bersubsidi Mulai Langka di Daerah Ini
. APINDO Sosialisasikan CEPA Indonesia-Uni Eropa kepada Asosiasi Industri
. Pilkada Payakumbuh Gunakan Tinta dari Gambir
. Nila Ikan Dunia !!
. Merak Antri, Pengusaha Rugi
. Tenaga kerja asing dilindungi
. Peluang Usaha Dagang Rumahan

Fatal error: Cannot redeclare themeplugin() (previously declared in /home/apindo/public_html/themes/apindo/theme.php:7) in /home/apindo/public_html/themes/apindo/theme.php on line 46